Kebanyakan orang mengenal Kak Seto dari boneka biru bernama Si Komo, atau dari sapaan hangat "Sahabat Anak" yang melekat sejak era televisi hitam putih. Yang jarang disadari: di balik sosok yang tampil ringan dan penuh sulap itu, ada seorang doktor psikologi yang menyusun karier akademisnya secara sungguh-sungguh sambil membangun institusi, bukan sekadar tampil di depan kamera.

Cita-cita dokter yang gagal, jalan psikologi yang justru menemukan

Seto Mulyadi lahir di Klaten, Jawa Tengah, pada 28 Agustus 1951, anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Mulyadi Effendy dan Mariati. Ia sempat bercita-cita masuk Fakultas Kedokteran, namun harapan itu kandas berkali-kali. Titik baliknya datang bukan dari ruang kuliah, melainkan dari kematian adiknya, Arief Budiman, yang meninggal akibat campak di usia tiga tahun — pengalaman yang membuat Seto muda mulai serius menekuni dunia anak-anak.

Jalan itu semakin jelas ketika ia menjadi asisten di Taman Kanak-kanak milik Pak Kasur dan Bu Kasur, dua tokoh pendidikan anak yang legendaris di Indonesia. Atas saran Pak Kasur sendiri, Seto akhirnya mendaftar ke Fakultas Psikologi Universitas Indonesia pada 1972 — bukan pilihan kompromi, melainkan arah yang justru mempertemukan ilmu dan panggilan hidupnya sekaligus.

Dari asisten TK yang gemar bersulap dan mendongeng, ia menempuh jenjang psikologi sampai ke gelar doktor — dua dunia yang jarang berjalan bersamaan pada satu orang.

Si Komo: karakter hiburan yang sebenarnya alat psikologi

Karier televisinya dimulai lewat acara "Aneka Ria Taman Kanak-kanak" bersama Henny Purwonegoro, tempat ia mendongeng, mengajak anak-anak bernyanyi, dan bermain sulap — keterampilan yang sudah ia pelajari sejak duduk di bangku sekolah dasar. Dari sinilah lahir karakter boneka Si Komo, yang diciptakannya bukan sekadar maskot hiburan, melainkan medium untuk menyampaikan pesan keselamatan dan pendidikan karakter dengan cara yang bisa diingat anak-anak jauh lebih lama dibanding ceramah langsung.

Pola ini konsisten muncul sepanjang kariernya: mengemas ilmu psikologi anak ke dalam bentuk yang mudah dicerna, tanpa mengorbankan substansinya. Latar belakang akademisnya berlanjut resmi — gelar Sarjana Psikologi UI diraihnya pada 1981, S-2 Psikologi pada 1989, dan gelar Doktor Psikologi dari Program Pascasarjana UI pada 1993. Kombinasi ini yang jarang dimiliki figur televisi anak generasinya: kemampuan menghibur yang teruji di depan kamera, dipadu riset dan teori yang teruji di ruang akademik.

1981 / 1989 / 1993
Jenjang S1, S2, dan Doktor Psikologi yang seluruhnya ditempuh di UI
1987
Penghargaan The Outstanding Young Person of the World, Amsterdam
2006
Penerima Men's Obsession Award atas kiprahnya di dunia anak

Membangun institusi, bukan sekadar tampil sesaat

Berbeda dari banyak figur publik yang berhenti di popularitas, Kak Seto secara berturut-turut mendirikan lembaga yang bertahan lama. Pada 1982 ia mendirikan TK Mutiara Indonesia, tempat idealismenya soal pendidikan anak pertama kali diuji dalam bentuk institusi nyata. Sejak 1998, ia dipercaya menjabat Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), posisi yang menempatkannya di garis depan penanganan kasus-kasus kekerasan, perceraian, dan pelanggaran hak anak di Indonesia selama lebih dari dua dekade.

Pada 2007, ia mendirikan Homeschooling Kak Seto (HSKS) — sekolah alternatif dengan filosofi bahwa setiap anak unik dan berhak atas pendidikan yang sesuai dengan dirinya, bukan sebaliknya. HSKS kini terakreditasi A dan memiliki cabang di berbagai kota seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Bandung, melayani siswa dari berbagai latar belakang: atlet, artis, hingga anak-anak yang kurang cocok dengan ritme sekolah formal konvensional.

Kenapa ini penting bagi calon peserta mentoring

Bagi siapa pun yang mempertimbangkan belajar dari seorang mentor, rekam jejak Kak Seto menjawab pertanyaan yang jarang diajukan tapi penting: apakah kehangatannya di depan publik didukung fondasi keilmuan yang sungguhan, dan apakah ia benar-benar membangun sesuatu yang bertahan setelah kameranya mati? Pada Kak Seto, jawabannya terlihat dari tiga institusi berbeda yang masih berjalan hingga kini — televisi anak yang membentuk satu generasi, Komnas PA yang terus menangani kasus nyata, dan HSKS yang meluluskan siswa dari berbagai kota di Indonesia.

Jejak singkat

1951
Lahir di Klaten, Jawa Tengah, 28 Agustus, dengan nama Seto Mulyadi.
1970
Mulai membantu Pak Kasur dan Bu Kasur di Taman Kanak-kanak, awal keterlibatannya di dunia anak.
1972
Diterima di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia atas saran Pak Kasur.
1981
Meraih gelar Sarjana Psikologi UI; mulai dikenal luas lewat acara televisi anak dan karakter Si Komo.
1982
Mendirikan TK Mutiara Indonesia.
1989
Menyelesaikan pendidikan S-2 Psikologi di Program Pascasarjana UI.
1993
Meraih gelar Doktor Psikologi dari Program Pascasarjana UI.
1998
Mulai menjabat Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA).
2007
Mendirikan Homeschooling Kak Seto (HSKS).